nice cat

Tuesday, November 30, 2010

FENOMENA DALAM CERITA KEMBANG KEMUKUS

“…Malam jemuah Pon. Kemukus nontonake rejane maneh. Ewonan manungsa beda-beda kekarep saka sakabening panggonan tumplek bleg….”. Demikian salah satu cuplikan dari cerita pendek (jawa cerkak) yang berjudul Kembang Kemukus. Dari cuplikan tersebut, kita dapat menyimpulkan anggapan awal bahwa ada sesuatu yang terdapat di dalam cerita tersebut yakni menceritakan tentang perjalanan seorang tokoh yang tinggal di salah satu tempat di Gunung Kemukus. Akan tetapi yang perlu disoroti bukanlah perjalanan dari tokoh yang terdapat di dalam cerita tersebut. Akan tetapi, bagaimana pengarang menunjukkan hal-hal yang menjadi suatu kepercayaan atau mitos yang terdapat di Gunung Kemukus.
Berdasarkan isi cerita, latar yang diambil adalah kota Sragen yang merupakan bagian dari salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Dari hal itu dapat diketahui bahwa latar belakang kehidupan pengarang khususnya lingkungan kesehariannya tidak jauh dari tempat yang diangkat dalam ceritanya. Kota Sragen mempunyai salah satu tempat yang konon dipercaya dapat membawa berkah jika orang yang datang kesana melakukan sebuah ritual. Pada hari-hari tertentu, kawasan ini dipenuhi dengan bermacam-macam orang yang mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Ungkapan seperti itu bukan hal yang asing bagi masyarakat di kota Sragen. Meskipun lokasinya kini sudah terpisah dengan daratan Kecamatan Sumberlawang, akibat genangan air proyek waduk raksasa Kedung Ombo beberapa tahun lewat, namun minat para peziarah yang berdatangan dari berbagai daerah tak pernah surut.
Daya tarik dari tempat ini adalah makam Pangeran Samudra dan ibunya Dewi Ontowulan. Pada malam Jumat Pon biasanya peziarah mencapai belasan ribu orang. Pengunjungnya banyak berasal dari Jawa Barat. Objek ini terkenal karena terdapat seribu mimpi indah yang bisa diraih di sana. Makam Pangeran Samudro diyakini memiliki tuah yang bisa mendatangkan berkah bagi mereka yang memohon dengan sungguh-sungguh. Sebut saja ingin sukses berdagang, mudah jodoh, atau karier cepat menanjak. Sayangnya, objek ini tercemar oleh mitos-mitos sesat. Padahal, tidak ada dasar cukup kuat untuk membenarkan mitos ini.
Orang-orang yang berziarah dan melakukan hal-hal yang diyakini dapat membawa berkah. Hal tersebut yakni dilakukannya hubungan badan dengan wanita yang berada di sana. Para wanita itu lebih tepat disebut dengan wanita tunasusila. Celakanya, apabila keinginan mereka ingin cepat terkabul, konon selepas melakukan ritual peziarahan yang diawali dengan mandi di sendang serta melantunkan doa-doa khusus yang dibimbing seorang juru kunci makam Pangeran Samudra, para peziarah perempuan harus menjalani ritual lainnya, yaitu mandi birahi dengan lelaki yang bukan suaminya.
Pada zaman yang begitu canggih dengan teknologi saat ini, masih saja terdapat peristiwa yang menurut hemat kita hanya merupakan keyakinan yang salah kaprah. Bagaimana mungkin kesejahteraan hidup didapatkan dari ritual yang terkesan seperti asusila. Sementara benar atau tidaknya hal tersebut belum jelas adanya. Sebab adegan hubungan intim tersebut tidak hanya dilakukan di balik warung remang-remang di kawasan tersebut akan tetapi juga biasa dilakukan ditempat terbuka. Bukankah hal itu tidak layak jika dilakukan oleh manusia yang mempunyai akal yang masih waras dan mempunyai nalar yang cukup kritis. Apalagi mereka yang berharap mendapatkan berkah harus berani melakukan hubungan intim dengan lawan jenis di Gunung Kemukus tersebut.
Sesungguhnya dari beberapa sumber dikemukakan bahwa terdapat salah paham yang terjadi pada inti dari ziarah makam Pangeran Samudra ini. Terdapat salah satu naskah wacana yang meyebutkan bahwa “Sing sopo duwe panjongko marang samubarang kang dikarepke bisane kelakon iku kudu sarono pawitan temen, mantep, ati kang suci, ojo slewang-sleweng, kudu mindeng marang kang katuju, cedhakno dhemene kaya dene yen arep nekani marang panggonane dhemenane” (Kadjawen, Yogyakarta : Oktober 1934. Terdapat pendapat yang keliru pada masyarakat awam adalah apabila berziarah ke Makam Pangeran Samudra harus seperti ke tempat kekasih/dhemenan dalam pengertian bahwa berziarah ke sana harus membawa isteri simpanan atau teman kumpul kebo serta melakukan hubungan seksual dengan bukan istri atau suami yang sah.. Parahnya, pendapat tersebut telah diterima oleh sebagian besar masyarakat. Pendapat tersebut yang mendarah daging dalam masyarakat kita, sehingga kekeliruan terus dilakukan. Bahkan akibat hal itu, kegiatan kumpul kebo dikomersilkan. Pendapat semacam itu perlu diluruskan.
Munculnya pendapat tersebut berawal dari penafsiran pengertian kata “dhemenan”. Pengertian kata “dhemenan” dalam bahasa Jawa diartikan kekasih lain yang bukan isteri/suami sah (pasangan kumpul kebo), kekasih gelap, isteri/suami simpanan. Sehingga pengertiannya menjadi apabila ziarah ke Makam Pangeran Samudra harus membawa dhemenan. Padahal arti sesungguhnya dari kata “dhemenan” dalam konteks naskah dalam bahasa Jawa tersebut adalah keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita yang ingin segera terwujud/tercapai seperti seakan-akan ingin menemui kekasih. Dapat disimpukan bahwa berziarah ke makam Pangeran Samudra di Gunung Kemukus adalah apabila ingin tercapai cita-cita atau harapan maka harus menghadapi segala rintangan dengan sungguh-sungguh dan memfokuskan diri pada cita-cita tersebut.
Jika ditinjau dari segi sosial pada saat ini, hal tersebut perlu ditinjau ulang yakni mengenai kegiatan ziarah makam Pangeran Samudra di Gunung Kemukus. Pendapat yang keliru perlu dilusruskan agar tidak terjadi kesesatan jalan yang berlarut-larut. Pada dasarnya ziarah makam ini memiliki berbagai macam hal positif. Salah satunya yaitu melestarikan kekayaan sejarah yang kita miliki, bukan justru merusak dengan pendapat yang tidak jelas asal usulnya.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment